Seorang anak tiba-tiba bertanya: “Bu, buah-buahannya kesakitan nggak kalau diiris pisau?”
Saya balik bertanya: “Ia diiris dengan basmalah,dengan hati-hati, dan rasa sayang, atau nggak?”
“ya iya.”
“Ya buah-buahan itu nggak sakit dong. Ia ikhlas. Ia tahu bahwa ia dibuat Tuhan untuk kita. Dan kita pun memakannya untuk bias membuat perahu, rumah, dan taman yang banyak dan bagus-bagus buat siapa saja. Supaya semua bisa berkata, Alhamdulillah.”
A dialogue exchanged between the author of the book: Permata Rumah Kita: Catatan Perjalanan Seorang Ibu, and one of her kids.
Firstly, thanks to Kak Dja Ithnin for lending me the book. I’ve not really read the book. (firstly, coz I’ve a riyadhus salihiin test this Sat. still have hundreds of pages to cover. Huu~. N secondly, bcoz it’s in Bahasa Indonesia. Very nice n original, just that I’ve yet to get used to the language I guess). Just browsed through some chapters and was especially interested in the dialogues. How the writer patiently and intelligently answered questions posed by the kids, both her own and the kids at the Children’s Home (Majelis Anak Alam Kampung Pasirlayung). Suker~
Rasa tenang je bila baca buku ni. Personally, I feel that kids these days are not treated like how they should be. Ada yang kasar sangat. Ada yang manjakan sgt anak-anak dorang. Di usia muda, anak-anak sudah pun didedahkan pada jenis-jenis hiburan yang tidak sesuai. Bila tonton TV, dengar muzik, anak dibiarkan ikut serta. Waktu kecil inilah anak2 paling mudah meresap dan mengikuti apa yang didedahkan padanya. Yg baik, dan yang sebaliknya. Anak-anak dilahirkan suci, bersih, tak berdosa. Sayang anak-anak yang sebegitu fitrahnya berubah menjadi “Mini Monsters” disebabkan kealpaan orang-orang dewasa di sekelilingnya dalam proses pendidikan mereka. Ibu Bapa kena pandai tapis dan bimbing si kecil. Bukan terus menyekat atau “menyembunyi”kan yang tidak baik, tetapi harus peka, jadi bila perkara/adegan yang tak baik timbul, mereka dapat menerangkan situasinya dengan anak dengan cara yang baik, jelas dan teratur.
Chey. Sekali baca, bunyi mcm Pakar mana ntah bebual. Sekali tu rupa-rupanya Khadijah Mohamed Hussain. Heee~ but really uh. kte pantang tau kalau nampak budak2 kecil yang “terbiar” tanpa tarbiyah yang sepatutnya. I like the way one of my sisters tarbiyah her kids. For example, while watching TV, when a woman who dresses inappropriately appears at the screen, my sis would ask her daughter –who, at that time, was ard 5 yrs old –“ is it appropriate for a Muslim to dress like that?”
and her daughter shook her head, saying: “no Ummi. Very shameful to dress like that.” Or something like that uh. Didn’t remember the exact dialogue, but I think the message that I want to share is clear. Budak-budak, kalau dididik dengan baik, ditanam dalam diri mereka tentang harga diri, malu, kesopanan, rasa hormat, rasa kasih dan rahmah pada orang lain dan juga binatang (geram tgk sebahagian budak2 Arab kat sini yang suka sepak/main2kan kucing. Kesian tau kucing2 tu!), insyaAllah anak-anak ini akan membesar menjadi orang-orang yang bertanggungjawab dan pemangkin Ummah. :)
